...The Alam Sumatera Bulletin...

FOKUS

Mengemas Cantik Paket Ekowisata


Alam Sumatera edisi Mei 2012

Nuansa asri dengan rimbunnya hutan serta gemericik aliran sungai, akan bertambah lengkap dengan kicauan burung yang selaras bersama nyanyian alam. Keharmonisan itu akan segera kita dapatkan saat langkah pertama menginjak Dusun Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo – Provinsi Jambi

Alam Sumatera Bulletin
merupakan salah satu pioner atas inisiatif Hutan Desa di Indonesia. Ditandai dengan diberikannya areal kerja Hutan Desa oleh Menteri Kehutanan, dilanjutkan dengan diberikannya Hak Pengelolaan Hutan Desa dan Rencana Kerja Hutan Desa oleh Gubernur Jambi serta Rencana Tahunan Hutan Desa oleh Bupati Bungo menjadikan proses administrasi pengelolaan telah terpenuhi. Sehingga tahapan berikutnya adalah bagaimana mengisi rencana yang telah dibuat oleh Kelompok Pengelola Hutan Desa menjadi implementasi pembangunan sesuai dengan amanat Peraturan Menteri tersebut. Salah satu potensi utama kawasan Hutan Desa Lubuk Beringin adalah pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas. Dimana konsep Ekowisata Berbasis Komunitas (communitybased ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat.

Implementasi model pengelolaan yang berbasiskan rakyat menuntut perubahan-perubahan yang tidak hanya pada tatanan peraturan perundang-undangan, struktur kelembagaan, administrasi dan prosedur, tetapi juga perubahan metode, strategi, teknik-teknik partisipatif, termasuk perubahan sikap dan perilaku aktor-aktor yang terlibat dalam implementasi UU No.41 Tahun 1999. Keluarnya Permenhut No:P-.49/Menhut II/ 2008 tentang Hutan Desa merupakan salah satu peluang bagi upaya para pihak, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Organisasi Non Pemerintah maupun masyarakat didalam mendorong tercapainya pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan bermanfaat secara ekonomi dan ekologi.


Ini jelas sangat sesuai dengan apa yang telah disusun oleh KPHD di dalam rencana kerja Hutan Desa, dimana keelokan panorama alam, potensi biodiversity, sosial budaya serta pengembangan agroforest bisa menjadi daya tarik kunjungan wisatawan, baik untuk penelitian, pembelajaran pengelolaan Hutan Desa maupun menikmati panorama serta budaya.

Besarnya potensi wisata serta seringnya wilayah ini dikunjungi oleh para peneliti asing, kunjungan para pihak dari berbagai Provinsi di Indonesia yang belajar Hutan Desa masih belum terkelola secara baik. Faktor masih minimnya pengetahuan terhadap pengembangan ekowisata, kesiapan pemandu, sarana prasarana menjadi salah satu persoalan mendasar untuk pengembangan daerah ini sebagai daerah tujuan Ekowisata. Oleh karena itu Pemerintah Dusun Lubuk Beringin BPDAS Batang Hari dan KKI WARSI berinisiatif mengadakan Pelatihan Ekowisata Berbasis Komunitas Bagi Pengelola Hutan Desa dan Skema CBFM lainnya. Khususnya bagi pengelola yang arealnya potensial untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan Ekowisata.


Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini, Senin - Rabu, 28 – 30 November 2011, bertempat di Dusun Lubuk Beringin Kecamatan Bathin III Ulu – Bungo, diikuti oleh 13 perwakilan pengelola hutan desa di Provinsi Jambi dan 2 pengelola hutan desa di Sumatera Barat. Dikatakan Adi Junaidi, selaku fasilitator dalam pelatihan tersebut dengan adanya kegiatan tersebut, dapat meningkatkan pengertian dan pemahaman mengenai ekowisata serta meningkatkan kemampuan dan ketrampilan peserta di dalam merancang potensi Hutan Desa dan skema CBFM lainnya sebagai daerah tujuan Ekowisata.

”Masing-masing peserta diharapkan mampu menggali potensi lokal, menyusun rencana kegiatan yang dapat dikembangkan dalam membangun ekowisata di wilayah masing-masing.
Yang pada akhirnya terbentuk jaringan ekowisata berbasis komunitas sebagai media belajar sekaligus media promosi dan jaringan pemasaran ekowisata“, jelasnya.


Kegiatan pelatihan ini memakai pendekatan metodologi Pendidikan Orang Dewasa, dimana antara peserta dan fasilitator sebagai teman belajar. Pada pelatihan ini masyarakat pengelola Hutan Desa dan skema CBFM lainnya merupakan individu yang punya pengetahuan mendalam
terkait dengan alam, dan budaya tradisional yang dapat dikembangkan serta menjadi daya tarik pesona. Dimana masyarakat bukanlah obyek wisata namun menjadi subyek yang nantinya akan berperan banyak di dalam kegiatan Ekowisata di desanya masing-masing. Sehingga metode fasilitasinya juga harus menghargai pengetahuan yang telah dipunyai oleh peserta

Pada tahap awal pelatihan akan disampaikan berbagai gambaran, perspektif, kebijakan, serta pengalaman yang akan disampaikan oleh para narasumber yang berpengalaman dan berkompeten di bidangnya yang berasal dari Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dan praktisi. Pada akhir sesi dilakukan diskusi. Sesi ini diharapkan akan mampu menyamakan pemahaman dan persepsi para peserta yang datang dari berbagai latar belakang pendidikan serta budaya yang berbeda terkait dengan pemahaman para peserta tentang konsep ekowisata, potensi dan peluang pengembangan, kendala, kebijakan serta prasyarat ekowisata.


Evaluasi terhadap proses fasilitasi akan dilakukan secara periodik setiap harinya pada akhir proses harian, kemudian hasilnya akan disampaikan pada keesokan harinya. Evaluasi proses ini penting untuk melihat ketepatan metodologi fasilitasi, kemampuan menangkap terhadap informasi baru dan efektifitas pelatihan. (Elviza Diana)

tanggal:2012-08-01, dilihat: 380x